Sunday, 20 November 2022

Watashi wa shiawasedesu

 

Assalamualaikum…selamat membaca untuk para haters and stalkers love u all kwkwkw.

“Mengapa ippo akhir-akhir ini sering menemani ?”

Kamu nanya

Kamu bertanya-tanya

Aku kasih tau ya…

 

Semua ini bermula pada liburan panjang yang sudah lama direncanakan. Meski tidak ingin berlama-lama dikampung halaman. Aku tau ia menungguku.

Singkat cerita perjalananku sepulang dari wisata kampung coklat melewati hutan yang gelap, aku tak membawa kacamata favoritku, hp kuletakkan di saku motor depan, mengaktifkan google maps, tiba-tiba motor tidak sengaja menghajar lubang jalanan, aku tetap saja melaju melewati hutan kiri dan kanan sambil mendengarkan adzan magrib yang telah berkumandang.

Jauh melaju menapaki jalan lurus ke depan, yang bersamaku tak menyadari apapun begitu pula denganku, kira-kira 3 km ke depan, sebuah Suzuki satria F150 mendekat ke samping motor yang ku kendarai, aku tak melihat plat motor apalagi warna motornya, sekelilingku menggelap, lampu motor redup cukup menerangi jalan. Pengendara sepeda motor itu berbicara padaku sambil menjulurkan tangannya yang memegang handphone. 1 menit berlalu aku belum paham apa yang ia katakan. Itu bahasa jawa namun dengan logat khas penduduk Surabaya.

Aku menatapnya sekilas lelaki yang menggunakan masker itu nampak tersenyum dari pancaran sinar matanya, kulitnya putih juga bersinar meski di kegelapan, ia menggunakan kacamata. Akhirnya aku mengerti ia menemukan hpku yang terjatuh.

Setelah sampai dirumah paman, Mama berkata padaku, “mengapa kau tidak memberikan no.hpmu?”

Aku hanya diam, mengapa aku harus memberikan nomor hpku, terlintas dibenakku, “mama tau aku punya kekasih, pasti dia akan marah jika aku memberi nomor pada sembarang orang”.

Mama melanjutkan gumamnya, hari gini masih ada laki-laki baik yang rela mengejarmu jauh hanya untuk mengantarkan hpmu yang murah, dia bisa dengan segera menjual hp itu. Trus kamu tidak mau memberi nomor hpmu ketika ia minta.

“Ma, dia baik bukan karena kebetulan, seandainya bukan sayapun saya pikir dia akan tetap menolong orang yang membutuhkan pertolongan, berarti pribadinya memang baik. Dari cara berpakaiannya pun saya rasa dia mampu untuk membeli hp sekelas punyaku”

“Justru karena dia baik makanya kamu harus berkenalan dengannya, MUNGKIN DIA JODOHMU”

“ha…???!!! Bisa sekali, ma saya sayang ippo, kami akan menikah” dan saya tidak pernah jatuh cinta pada pandangan pertama, itu mustahil, kalau kebetulan dia tampan itu berkah untuk melihat hal yang indah, mata diciptakan untuk itu bukan wkwkwwk”

“Terserahmulah, kan berteman saja tidak masalah, di tahun ini masih ada orang baik”

“kalau semua orang jahat, maka diri sendiri jadi orang baik kan”

Mama meremas tanganku, gemas melihat anaknya sok bijak.




 

            Back to reality kesibukanku menenggelamkanku hingga lupa peristiwa itu, itu hanya kebetulan dari banyaknya penduduk surabaya bisa saja terjadi pada segelintir orang bertemu dengan mahluk sebaik itu pikirku.

Aku bersyukur karena ippo tidak banyak menuntut, ia terlalu pengertian sehingga sebisa mungkin aku menemaninya di sabtu dan minggu, seperti lagu sandi “sabtu minggu aku untukmu” walaupun kadang kami hanya makan malam.

Suatu ketika di siang hari yang panas dibawah deretan langit-langit skim coat ekspose­, semua pekerja itu menyapaku seperti biasa mereka seperti teman, bahkan terkadang mereka mengajak selfie Bersama. Aku kadang-kadang merasa aneh jika diberikan perhatian yang lebih, sama seperti ippo yang terus menghujaniku. Dia ingin segera menikah, tapi proyek belum kelar…aku paham dia telah menunggu lama. Dia sabar, demi apapun tidak akan sebanding dengan pengendara Suzuki itu wkwkw celetukku.

Seseorang nampak tak asing berdiri dihadapanku…ia memperkenalkan diri rupanya PIC yang baru menggantikan penanggung jawab yang resign sebelumnya untuk bangunan Main Power House ini. Dan ketika dia mulai menanyakan mekanisme pengajuan izin pelaksanaan pekerjaan aku mulai memperhatikan wajahnya dengan seksama.

Aku terkejut, sesaat telapak tanganku menutup mulutku…dia lelaki berkacamata itu, pengendara itu. Sepertinya klise, tidak masuk akal, jarak, waktu, mengapa bisa, apa ini kebetulan. Aku tidak percaya dengan kebetulan menurutku di dunia ini hanya ada kebutuhan, tapi peristiwa sebulan yang lalu harusnya kebetulan, dia toh tidak memiliki kebutuhan padaku sampai ditempatkan di proyek ini.

Aku belum tau ending cerita ini, aku sadar ia memiliki perasaan entah karena kejadian itu, atau mungkin karena sikapku membuatnya penasaran, biasanya aku terpikat pada hidangan panas, pedas, atau asing, tapi sepertinya kali ini ingin mendapat manfaat dengan mencoba sesuatu yang sedikit avant garde. Buat yang terluka, get well, aku bahagia, kamu harus bahagia, dan dibahagiakan orang yang tepat. Orang bilang aku terlalu cepat move on sebenarnya bukan soal itu, hanya aku paham bahwa kentangnya mungkin tidak terasa sama, tetapi kehidupan membaik.

 

Wednesday, 18 August 2021

MCBYL

 

Assalamualaikum War. Wab.

Btw udah lama vakum nih dari dunia penulisan….tiba-tiba aja terinspirasi wkwkwkw. Anggap aja tulisan kali ini persembahanku buat 17 agustus 2021.






 

Suatu hari anak laki-laki yang lebih mirip seorang anak SMA, memegang erat tangan pacarnya dia menatap ke dalam matanya mencoba meyakinkan apa yang dikatakannya adalah kebenaran. “Lihat aku mencoba menipumu lagi” sorotan matanya seakan menyiratkan demikian.

Ia berkata bahwa gadis itu adalah segalanya baginya, gadis yang bertemperamen kasar, sangat pencemburu, biasa saja, dan sangat polos itu seperti tersihir atas tipu muslihatnya.

“Saya tidak pantas untukmu, kau berhak mendapatkan orang yang bisa mendukung masa depanmu”, jangan keluar dari tempat kerjamu, kau butuh uang itu”

“kau adalah masa depanku, kau lebih berharga dari uang itu, kita bisa mendapatkan uang di tempat lain, aku akan freelance, dan tidak ingin menjadi PNS, yang penting hubungan kita nyaman, saya Bahagia bersamamu”

“saya tidak mengerti apa yang kau lihat dari diriku ? saya banyak kekurangan dan paling kau tau kecemburuanku ini adalah kelainan yang merusak hubungan kita, saya mau kau dengan orang lain, yang penting kau Bahagia, saya ikhlas” matanya berkaca-kaca.

“Saya mau kau tidak ada yang lain, saya ingin kita segera menikah, saya ingin punya anak darimu” demi menguatkan pernyataannya dia tidak masuk kantor selama seminggu. Awalnya biasa saja, anak lelaki itu telah bulat dengan tekatnya.

Dan esok harinya berubah 180°

Ia menemui bosnya dirumahnya dan beberapa karyawan lain disana. Tak lama setelah pertemuan itu dia menelepon kekasihnya.

“Saya merasa seperti sampah, tidak bersyukur, saya mengundurkan diri tetapi masih dipertahankan, betapa baiknya mereka kepadaku”

Anak lelaki itu bercerita demikian, agak berbeda dengan cerita yang biasa dibawakannya tentang mereka yang mempermasalahkan uang dinas yang diterimanya, yang berkata sulit untuk berkoordinasi dengan teman-teman kantornya.

Isi wa yang diterima kekasih anak lelaki itu berbeda lagi “saya diajak ke Irian Jaya, kalau sayang bilang pergi saya akan pergi, kalua tidak saya tidak akan pergi.

Belum sempat membalas isi WA anak laki-laki itu, kekasihnya Nampak bingung mengapa seolah dirinya yang menentukan perjalanan dinas anak lelaki itu.

“Bukannya hal ini telah jauh kita bahas diawal…bukannya kau sendiri yang tidak ingin pergi, dan banyak kebacotan lain lagi yang kau sampaikan, tidak ingatkah ?”

“Saya bingung, saya buntu sekarang…mengapa kau tidak mendukung masa depanku, mengapa kau tidak percaya padaku, mengapa kau tidak ingin saya menjadi maju, mengapa kau menjadi penghambat masa depanku”

“Mengapa kau buat saya seolah-olah yang mengatur keputusanmu, mengapa saya menjadi kambing hitam atas keinginanmu, kalua mau pergi silahkan pergi, dari lalu saya sudah sampaikan, sudah saya minta untuk masuk kantor”

“Karena kau terlalu curiga padaku makanya saya serba salah, saya harus menemui sahabatku untuk meminta pendapatnya saya harus bagaimana”

“Begini Wil, kau laki-laki kau yang harus buat keputusan, saya tidak punya hak untuk menentukan masa depanmu, saya paham bahwa sebenarnya kau ingin pergi ke Irian Jaya, tapi kau membuat seolah-olah saya yang memutuskan langkahmu, dan itu yang kau sampaikan pada teman-teman kantormu. Kalau kau mau pergi silahkan, saya hanya ingin bertemu langsung dengan kau untuk membahas ini bukan melalui telepon seperti ini…sepulang kau dari rumah bosmu.

“Saya butuh uang, keluargaku banyak hutang”

“Itulah, pergi saja saya ikhlas untuk keputusanmu, hanya saja saya kaget apa  yang kau ucapkan kemarin berbeda dengan hari ini tentang kau bisa kerja dimana saja”.

“ia nanti saya kirim pesan melalui WA kalau Saya sudah pulang”

 

 Percakapan di telepon itu membawa ingatan ke peristiwa dibeberapa bulan yang lalu…

 

Hari itu betapa bahagianya dan menggebu-gebu Orin mencari contoh-contoh foto prawedding, tiap pose yang ia dapati, jika menarik baginya ia kirimkan ke kekasinya Wildan. Mereka ingin membuat foto sederhana.

Tiba-tiba Ketika asik mengetik pesan…, pesan yang terkirim ke WA Wildan hanya centang satu, waktu itu pukul 11.15 WIB, tetapi Orin merasa aneh mengetahui bahwa kekasihnya aktif di sosmed Instagram. Apakah Wildan sengaja tidak mengaktifkan aplikasi WA nya.

Sore itu Orin melakukan pertemuan dengan masyarakat di Jl. Semar, penuntasan masalah pembangunan sarana prasarana umum. Tetapi pikirannya masih pada Wildan Ia khawatir mengapa WA nya tidak aktif

 

Ia mencoba mengirim pesan melalui pesan biasa, dan terkirim ke nomor tujuan, tak berapa lama, pesan balasan diterimanya.

“Berat disini masalahnya, nanti Saya jelaskan, Saya akan meneleponmu jam 22.00 nanti”

Dengan berat hati Orin menunggu hingga jam itu, sementara WA Wildan tidak juga aktif

 

Ketika jam 22.00 tiba, telepon yang dinantinya tak kunjung datang.

“Mengapa wildan menghilang, apa salahku?!!”

Orin mencarinya, ia ingin kerumah lelaki itu, tetapi feelingnya berkata lain bahwa lelaki itu ada dikos rumah temannya. Ia memutar arah kemudi motor yang ia kendarai. Sesampainya di Kos itu ia pelan-pelan mengintip dari luar jendela, ternyata benar Wilda nada di dalam kos itu. Lekas diketuknya pintu itu dengan nafas yang masih tersengal-sengal.

Begitu pintu dibuka, ia serta-merta menampar wajah lelaki yang kaget tak menyangka bisa diketahu tempat persembunyiannya.

“Apa maksudmu? Mengapa kau sengaja mematikan WA mu, Mengapa kau tidak menelponku?!! Apa salahku…?!! Mengapa kau menghilang, bercucuran air matanya seiring tubuhnya lengser ke lantai kos itu”

“Saya tidak bisa menikah denganmu, orang tuaku tidak setuju, maafkan Saya, Mamaku menangis Saya tidak tega melihatnya seperti itu”

“Saya tidak ingin kau menjadi anak durhaka, karena restu orangtua itu penting, Saya minta maaf untuk semua kesalahanku selama ini, semoga kau Bahagia dengan siapapun kelak”

Punggung gadis itu hilang dibalik pintu bergagang besi.

5 hari kemudian mereka bertemu ditempat biasa mereka mengumpulkan tugas kantor…Wildan mengajak Orin ke sebuah Café dan berkata “senang sekali melihatmu hari ini, Saya rindu dengan kau”

Betapa bodohnya Orin masih mau menerima ajakan Wildan untuk Kembali, tetapi ia Kembali kecewa mendapati fakta, bahwa hari kedua setelah mereka sepakat berpisah Wildan menghubungi mantannya untuk menyampaikan bahwa mereka batal menikah.

Semudah itu kah….?!

Apakah wildan labil, apakah memang Orin yang terlalu polos, atau kah ini adalah cinta buta. Kejadian hari itu masih jelas tertanam dibenak Orin, bisa ia maafkan tapi tidak untuk dilupakan…ia bergegas menarik gas motor maticnya melaju ke tempat janjian bertemu dengan Wildan disebuah taman, area bermain bola basket.

Ia menunggu Wildan malam itu…melempar tatapan ke lapangan kosong itu, meremas jemarinya yang memutih….

 

 

 

To be continued…

 

Wednesday, 7 August 2019

MISS STALKER


PROLOG

Saya menulis cerpen ini spesial saya persembahkan buat Lulu, karena setelah melalui debat panjang dia berhasil meyakinkan saya untuk mau menulis postingan di ig kotakusulteng.

Flash back sedikit...bermula dari Pak Lubis yang mengupload video di grup internal TIM KOTAKU SULTENG dan teman-teman TF 05 yang juga terlibat dalam serangkaian kegiatan.





Saya juga tidak menyangka apa yang saya tulis akan terekspos sebegitunya,,, karena memang salah satu hoby saya adalah menulis di waktu luang. Saya sempat drop pernah coba mengirim cerpen ke tabloid ternama Indonesia, dan itu the first time for me mencoba mengirim ke penerbit, namun tidak mendapat respon.

Nah kali ini saya merasa termotivasi kembali berkat mereka dan juga salah satu anggota pemandu KMP Pusat Pak Immanudin. Saya berterima kasih sebesar-besarnya atas segala bantuan beliau yang membuat tulisan saya terbit di Kotaku Nasional.

Anyway saya hanya manusia biasa yang terus belajar mengasah kemampuan...yang tentu saja tak luput dari kesalahan baik dari segi alur cerita maupun penggunaan tanda baca dan kalimat-kalimat yang mungkin kurang tepat. Untuk itu saya mohon maaf dan kedepannya akan lebih fokus lagi dalam pengembangan diri. 

"Semoga sehat selalu dan jangan lupa bahagia...".










                                                                MISS STALKER


Aku menatap layar handphoneku. Seperti biasa saat terbangun di pagi hari dan sebelum tidur. Meski tiap hari minimal lima puluh notification terkirim ke facebookku, kadang aku membiarkannya, mengendap di sana, tanpa kubaca. Sudah setahun semenjak peristiwa kecelakaan itu. Aku menyibukkan diri pada sesuatu yang kusebut Miss Stalker. Aku merasa dia telah menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Bagaimana tidak karenanya aku berhasil mengatasi perasaan terintimidasi oleh keganasan ibu–ibu rumpi. Aku bisa membalas umpatan mereka dengan lantang, mengucap sumpah serapah sesukaku, tanpa perlu berhadapan langsung. Tentu saja aku sangat ingin melabrak si biang gosip, namun aku memilih seolah-olah tak peduli dengan mereka. Aku ingin mereka melihatku baik–baik saja.

Setengah jam berlalu, duduk mengamati bentuk Jembatan IV dari bawah pohon trembesi. Jembatan yang menghubungkan antara Kecamatan Palu Barat dan Palu Timur yang lebih terkenal dengan nama Jembatan Kuning. Sesekali aku berpindah tempat mencari angel yang pas untuk mengabadikan potret objek yang membentang dihadapanku. Tak berapa lama dari kejauhan sosok seorang pria menghampiri tempatku berpijak. Aku tak bermaksud seperti tak menyadari kedatangannya. Sampai ketika pria itu bertanya, “Sendirian?,” sosok itu tersenyum tipis, basa–basi seperlunya, akupun mengangguk sambil lalu, namun sekilas memperhatikan perawakan pria yang kini telah merebahkan bahunya pada pohon di tempat semula aku duduk. Pria yang tampak lebih tua dariku itu bertubuh kurus, tingginya kira–kira 170 cm, berkulit sawo matang, bermata teduh. Pria itu meletakkan ransel ke atas pangkuannya, merogoh ke dalam tas, lalu mengeluarkan selembar kertas dan sebuah pensil. Sekitar lima menit melempar pandang ke objek yang sama seperti yang kuamati. Kemudian pria yang berumur sekitar 30-an itu dengan luwesnya
menggerakkan jemarinya, membuat sketsa.

Setelah menyikat gigi dan meminum segelas air putih aku menaiki ranjang tempat tidurku. Merenung sejenak sambil mengendus kesal mengingat perbincangan di ruang makan tadi. Tentang aku yang mendadak memutuskan berhenti dari tempatku bekerja. “Biarlah mereka berpikir dengan cara mereka sendiri, aku pun berhak tak memberikan penjelasan,” pikirku. Empat tahun enam bulan menempuh pendidikan sebagai mahasiswi teknik. Meski tidak mendapat predikat Cum Laude setidaknya aku pernah menjadi salah satu mahasiswi berprestasi yang terbukti dengan terpilihnya aku menjadi Beswan Djarum. Sejarah masa lalu yang cukup membanggakan, namun seakan tak berarti saat ini. Kenyataannya sudah berbulan-bulan aku menjadi penghuni tetap kamar tidurku. Menunggu panggilan interview. Awalnya aku bukanlah tipe orang yang aktif di sosmed. Hp bagiku sudah bisa digunakan untuk menelpon dan mengirim pesan saja itu lebih dari cukup. Aku tidak tertarik dengan aplikasi dunia maya yang penuh dengan kepalsuan, tidak penting bagiku, hanya membuang–buang waktu. Ternyata aku salah. Aku berubah. Tiga bulan belakangan ini aku telah menjadi seorang maniak facebook.

Miss Stalker. Foto profil pemilik akun itu menampakkan sosok gadis muda, berhidung mancung, kulit kuning langsat, bibir kecil dan bermata bulat yang besar. Siapa yang tidak ingin berteman dengannya, sebagian besar permintaan pertemanan yang dikonfirmasi berasal dari kumpulan kaum adam. Akun ini menjadi viral, memiliki ribuan followers. Dialah ratu dunia maya, bukan sekadar berwajah cantik, tapi juga memiliki kepribadian yang menarik. Akun ini sering memposting artikel yang tiap kali muncul diberanda seakan memberi motivasi tersendiri bagi pembacanya. Tak heran sekali posting status minimal mendapat seribu like dari teman dunia maya, termasuk tetanggaku yang hobi rumpi sering kali berjubel membanjiri kolom komentarku. Meskipun biodata, termasuk foto yang kuupload adalah palsu, tetapi konten cerita yang kubagikan benar terjadi di kehidupan. Dan melalui akun ini pula aku bisa berkenalan dengannya.

Sore itu aku menyesap secangkir saraba, sambil menatap keluar jendela ruang kerjaku. Beruntung menyaksikan pemandangan laut biru di depan kantor baruku. Semilir angin yang berhembus, deburan pasir bertabrakan dengan ombak, bunyi kicau burung–burung, juga pohon kelapa berjajar menjulang tinggi. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sini, terkadang jiwaku seolah ikut hanyut ke dalam dasarnya. Ditambah lagi penjual minuman sejenis Susu Telur Madu Jahe ini bisa kupesan dan diantar langsung ke ruanganku.
“Lengkap sudah kenyamanan ini,” gumamku seraya bertopang dagu. Sore itu pukul 17.15 WITA. Sebenarnya sejak jarum jam menunjukkan lagi lima menit pukul lima, karyawan di perusahaan ini sudah seperti cacing kepanasan, ingin segera meninggalkan perusahaan. Sepertinya hanya aku saja yang terlihat betah berlama–lama di kantor. Mengapa tidak memanfaatkan free wifi bisa membantuku menghemat pembelian paket data internet. Aku juga bisa kembali keduniaku, dunia palsu yang kuciptakan, meskipun secara kesuluruhan tidaklah palsu.

Aku membuat album berisi kumpulan beberapa foto Jembatan Kuning yang kujepret seminggu yang lalu. Mengingat hari itu, terlintas di benakku tentang sosok pria yang sempat menyapaku, meskipun akhirnya kami tidak melanjutkan obrolan, tidak saling menanyakan nama, apalagi bertukar nomor telepon. Semenit kemudian setelah memposting album, aku mendapat inbox. Tertulis disitu, “Bisakah aku bertemu wujud asli pemilik akun ini?.” Aku terdiam sejenak berusaha mencerna maksud kalimat itu. Aku mengerti, orang ini bisa saja mengetahui identitas asliku. Alih–alih bertanya ini lebih terlihat sebagai peringatan. “Tapi siapa dia?.” Aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun perihal akun ini. Aku lekas membuka profil pengirim pesan. Acen Darius, begitu nama yang tertera di sana, namun nama itu tidak menjelaskan apa–apa. Acen tidak mengisi biodata seperti nomor kontak, jenis kelamin, bahkan dia tidak pernah memposting apapun mengenai dirinya. Dia hanya berteman secara serampangan, kulihat dari daftar pertemanannya yang hanya berjumlah lima puluh orang, termasuk aku salah satunya. Bahkan aku tidak pernah ingat kapan mulai berteman dengannya. Aku tidak membalas pesan itu.
“Aku tidak boleh gegabah bisa jadi orang ini hanya asal bertanya. Mari kita lihat apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan Acen Darius,” gerutuku.

Untuk pertama kalinya aku penasaran pada teman dunia maya, sebelumnya aku tak peduli mereka tak mengenalku secara asli, akupun tak begitu ingin tahu siapa mereka, ini hanya sebatas pelarian yang kugunakan ketika bosan dengan rutinitas teratur. Setiap orang memiliki cara sendiri menikmati kesendiriannya. Sebulan setelah menerima pesan. Acen kembali mengirimiku. Kali ini bukan pertanyaan yang berbau identifikasi. Dugaanku meleset mengenai Acen yang akan menyerang dengan mencari bukti untuk membongkar kedok Miss Stalker atau mengancamku agar memberikan uang tutup mulut karena telah melakukan pelanggaran UU ITE. Seperti pada beberapa kasus penyalahgunaan akun yang sempat booming di media online baru–baru ini. Kenyataannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Kami malah mulai berkomunikasi dengan rutin, seperti layaknya teman dekat, sering chatting di messenger, saling berbagi cerita mengenai kehidupan kami. Segala hal semakin intens, terkadang saking mengalirnya sampai melewatkan jam makan siangku. Lama–kelamaan terasa seakan-akan seperti sepasang kekasih yang menjalani long distance relationship. Bedanya aku tidak mengetahui dengan pasti kepada siapa aku mengirim pesan. Aku sempat berpikir ini gila jika aku sampai jatuh cinta pada orang asing yang belum pernah kutemui, karena bisa jadi Acen adalah seorang wanita. Aku belum pernah mendengar suaranya. Aku takut jika ingin berbicara dengannya, dia akan mengajakku untuk bervideo call. Itu akan membuka rahasiaku sendiri, yang selama ini telah kusimpan dengan baik. Dia mungkin sudah tahu rahasiaku. “Entahlah, aku masih belum siap dengan segala kemungkinan,” erangku dalam hati. Aku sudah terlanjur terjebak dalam situasi ini. Tetapi mengapa bimbang? Toh, tidak ada yang merasa dirugikan, kami menghargai cara pertemanan kami sebatas ini. Acen sendiripun tidak pernah mengajakku VC ataupun bertemu, mungkin dia berpikir dumay sudah biasa dengan permainan, jadi aku tinggal melanjutkan saja. Setidaknya untuk sementara ini, hingga kami telah mencapai titik jenuh dari penggunaan sosmed. Walaupun begitu entah mengapa jujur di dalam hati, aku mulai rindu pada kekonyolan kata–kata Acen yang membuatku tertawa, yang kerap kali diselipkannya dalam percakapan kami.

Malam minggu. Aku menghabiskan waktu di kantor. Mencoba menyelesaikan rekap laporan bulanan yang seperti biasa kukerjakan. Aku berniat mengejar batas deadline proyek yang sebelumnya sempat mandek akibat doublejob yang kuterima. Tidak mudah memiliki pekerjaan cadangan, setelah dinyatakan terikat pada kontrak perjanjian kerja yang harus kujalani selama tiga tahun kedepan, tentunya bekerja secara fulltime. Ya, aku bekerja di sebuah Perusahaan Kontraktor. Arthur Paradise, nama perusahaan tempatku bekerja saat ini. Aku terbiasa bekerja di bawah tekanan, selama kinerja yang kuhasilkan sebanding dengan upah yang kudapatkan, begitulah prinsipku.
“Apa yang kau inginkan untuk makan malam?,” suara seorang pria memecah keheningan diantara kami. Aku baru sadar sedari tadi tidak sendirian di dalam ruangan ini.
“Kau bisa memesan padaku, karena aku berencana keluar sebentar untuk mengisi bensin sekaligus membeli makanan,” jelasnya.
“Aku ingin makan tabaro dange,” sinar mataku berkilat–kilat saat menyebutkan nama jenis makanan itu.

“Oke,” balas Moha singkat, mengerti maksud tatapanku. Dia sudah meraih gagang pintu. Tak berapa lama sampai pemilik tubuh jangkung itu menghilang dibalik pintu.

Sejam kemudian Moha telah kembali dengan membawa bungkusan plastik berwarna hitam. Dia meletakkan bungkusan itu di atas meja kayu persegi panjang. Aku segera menghampirinya, membuka bungkusan mengatur isinya pada piring. “Kau mau kopi?,” tanyaku, sambil menuangkan gula pasir ke dalam dua gelas kaca. Moha menatapku dari sudut meja kerjanya sembari tersenyum kecil. Aku mendekat ke arahnya, membawa dua gelas kopi dan sepiring tabaro dange. Belum lima menit berdiri, Moha sigap lekas menarik sebuah kursi, lalu diletakkan tepat di samping kursi yang ditempatinya.
“Duduklah, aku ingin menunjukkan sesuatu,” ucapnya lembut, sambil membuka folder pada dekstop komputernya. Aku melihat beberapa gambar rendering desain Ruang Terbuka Hijau yang dibuat olehnya.

“Ini bagus,” kataku, menatap dengan kagum.
“Syukurlah,” Moha mendesah lega, “Bagaimana dengan laporanmu?,” sambungnya lagi.
“Oh itu, hampir selesai, besok aku tinggal membuat salinannya,” sambil memasukkan potongan demi potongan kudapan khas Kota Palu yang terbuat dari sagu berisi gula merah itu ke dalam mulutku. Aku sadar dia mengamatiku makan dengan lahap. Mata kamipun akhirnya beradu ketika aku mulai meneguk kopi hitam yang sudah setengah jalan masuk ketenggorokan, tiba–tiba aku tersedak. Moha lekas mengambilkan tisu, menempelkannya ke sudut bibirku, aku refleks mengambil alih tisu itu, membersihkan sendiri, karena saat itu aku merasa wajahku memanas, meski tidak sepanas seperti kala Acen menggodaku diobrolan.

Keesokan harinya, aku sengaja bangun terlambat. Hari ini libur, waktunya metime. Aku bermalas–malasan, menghempaskan punggung ke sandaran ranjang tidurku yang empuk. Aku teringat pada Moha. Malam itu kami duduk begitu dekat. Aku bisa memperhatikan wajahnya dengan baik. Dia memilki mata cokelat yang indah. Aku senyum–senyum sendiri ketika membayangkan kejadian itu. Moha adalah karyawan baru yang sejak seminggu ini telah bekerja di perusahaan yang sama denganku. Dia memilki kepribadian yang hangat, bertutur kata sopan. Hal itu yang membuatnya begitu mudah menempatkan diri dan bekerjasama dalam tim. Aku merasa kami cocok menjadi rekan kerja. Dia mengagumkan dan kami bisa bertukar pikiran secara live. Ketika memikirkan kalimat terakhir membuatku terbesit pada seseorang yang tidak pernah berkomunikasi secara langsung denganku. Lekas meraih handphone yang semula kuletakkan di atas bufet kecil. Sudah tiga hari ini aku tidak mengaktifkan Messenger. Terlalu sibuk membenamkan diri pada pekerjaan di kantor. Begitu kuaktifkan rentetan bunyi pesan masuk dan pemberitahuan berdenting memenuhi ruang kamarku. Tentu saja dua puluh lima pesan masuk dari Acen. Sementara kubaca satu persatu, tetapi belum selesai membaca, tiba–tiba panggilan masuk tertera di layar. Acen menelponku. Sebelah tanganku terangkat memegang hp, lalu kutempelkan ketelinga.

“Halo Gea, kamu di mana?, mengapa baru aktif sekarang?,” terdengar suara cemas di ujung sana. Acen sangat mengenalku. Dia menyebutkan namaku. Sedikit lega bisa memastikan bahwa aku bukanlah seorang lesbian. Meskipun begitu rasanya masih tidak adil jika hanya aku yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Acen Darius. Aku memintanya untuk bertemu. Dia mengiyakan keinginanku, tetapi kami tidak bisa segera bertemu. Acen harus menyelesaikan beberapa urusan pekerjaannya di Samarinda. Dia berjanji awal bulan depan ia akan terbang berkunjung ke Kotaku. Sebagian fakta baru terungkap. Mengenai Acen yang bekerja disalah satu Perusahaan Konsultan terbesar di wilayah Kalimantan Timur, tepatnya di Samarinda Seberang. Entah mengapa ketika Acen menyebutkan kota tempat domisilinya, mendadak membuatku sedih, membuka tabir lama. Luka di masa lalu yang belum sepenuhnya terhapus. Meski kuakui kesedihan itu mulai berkurang, bahkan pernah kulupakan, semenjak aku mengenalnya. Dia yang membuatku bangkit kembali. Setiap obrolan kami, melalui akun Miss Stalker. Dia telah mengajariku untuk ikhlas melepaskan dan tegar menghadapi kenyataan.

September 2017 adalah hari pertemuan yang telah lama kunantikan. Butuh waktu sejam aku berdandan, mengenakan pakaian terbaik. Betapa senangnya aku, karena sore itu aku bertekad untuk mengatakan semuanya. Alasanku membuat akun palsu. Kami sepakat bertemu di salah satu rumah makan khas kaili, yang menu utamanya menyajikan kaledo, sup tulang sapi yang dimasak empuk dengan campuran bumbu seperti asam jawa, cabe rawit dan garam. Sup ini biasanya dimakan bersama dengan ubi rebus. Bukan hanya hidangannya yang memanjakan lidah, tapi juga suasana tradisional yang nyaman melekat erat pada rumah makan ini. Pada bagian atap bangunan ini terbuat dari rumbia dan berbentuk piramida menyerupai Rumah Tambi, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tengah. Aku tiba lebih awal di rumah makan itu, dan memilih meja makan yang dekat dengan jendela besar. Betapa terkejutnya aku setelah pergi sebentar memesan makanan, mendapati sosok pria yang pernah kutemui sebelumnya, telah duduk dibalik meja yang kupilih.

“Kamu orang yang membuat sketsa di Jembatan Kuning itu?,” sambil menunjuk orang yang kumaksud, meskipun tidak sopan.
“Benar itu aku, Gea Indriani.” Aku tidak menyangka dengan apa yang akan kudengar, bahwa dari awal Acen sudah tahu soal Miss Stalker adalah akun palsu yang sengaja kubuat. Acen melanjutkan penjelasannya. Dalam sekejap mata memori setahun yang lalu kembali berputar di hadapan kami.

Malam itu langit berubah gelap, angin berhembus kencang, merontokkan dedaunan pada pohon diiringi rintik hujan yang semakin lama bertambah deras. Aku berlari keluar dari rumah, disusul oleh seorang pria yang berlari mengejarku. Tanpa pikir panjang aku sudah melangkah menuju jalan beraspal. Sebelum sempat menyeberang, terlebih dulu sebuah mobil melaju, makin dekat kearahku. Aku pasrah dengan yang akan terjadi. Tahu–tahu sebuah tangan mendorongku, aku tersungkur jatuh ke sisi jalan. Dari kejauhan samar kulihat seorang pria tergeletak di sana, mulutnya bergerak seperti menyebutkan sebuah nama. Aku tak mendengar apa yang dikatakannya, namun aku tau pria itu memanggil namaku, perlahan. Sementara bercak darah segar yang berceceran mulai hilang oleh guyuran air hujan.

Tak berapa lama akupun kehilangan kesadaran. Air mataku seketika tumpah, jatuh bercucuran, membasahi pipi dan berakhir di pangkuan. Pengemudi mobil itu adalah Acen. Dia telah berusaha menyelamatkan kami, dengan melarikan aku dan pria itu ke rumah sakit terdekat. Namun Tuhan berkehendak lain. Suamiku telah tiada. Setelah peristiwa itu aku memutuskan pulang kerumah orangtuaku di Kota Palu. Rupanya pertemuanku dengan Acen sewaktu itu bukanlah kebetulan. Dia ingin meminta maaf, namun bibirnya beku ketika mendapati sikapku yang tak acuh, meskipun dia sadar aku tak mengenali dirinya. Acen sudah lama mencari tahu tentangku. Dia dihantui oleh rasa bersalah, apalagi setelah dia mendengar kabar bahwa setelah kejadian itu aku mulai tertutup, menjauhkan diri dari pergaulan, dan berhenti dari tempatku bekerja. Sampai ketika Acen menemukan akun yang memposting foto Jembatan Kuning. Dia langsung tahu bahwa Miss Stalker adalah aku. Penjelasan Acen berhenti seiring dengan datangnya pelayan yang menghampiri meja kami, membawakan dua gelas air putih. Aku menghabiskan semangkuk kaledo, meskipun kuah sup telah berubah menjadi dingin. Setelah hari itu kami tidak pernah lagi saling menghubungi. Sebenarnya aku tidak membenci Acen. Terlepas dari semua hal yang telah terjadi. Aku telah jatuh cinta.
Setahun kemudian tanpa sengaja kami bertemu kembali. Di sore hari di tempat yang sama, duduk berdampingan memandangi jembatan dari bawah pohon.

“Mungkin terlambat untuk mengatakan ini, tapi kau harus tahu aku mencintaimu. Apakah kau telah menikah dengan pemilik mata cokelat itu?,” kau pernah berkata dia mengagumkan,” tambahnya.
“Benar, dia memang mengagumkan, tapi sayangnya aku sedang menunggu seseorang datang dari Kalimantan.” Acen tersenyum lebar dan menatapku dengan mata yang berbinar–binar.


















Thursday, 25 April 2019

GHOSTING


Hari ini kami akan mengevaluasi sudah sejauh mana pekerjaan bongkaran yang dilakukan oleh kontraktor. Ini pertama kali bagi kami mengawasi pekerjaan dari BUMN. Seperti biasa saya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, orang-orang baru dan lingkup pekerjaan yang lebih menantang dari sebelumnya. Dengan mudah saya memperoleh nomor kontak personil kontraktor yang sedang bertugas, khususnya pelaksana bagian arsitektur.

Kami membuat janji bertemu siang itu dilantai 1 terminal. Pria berhidung pesek itu menemani saya dan partnerku berkeliling terminal mengecek apakah pekerjaan dilapangan sudah sesuai dengan kontrak kerja.

Semenjak saat itu Alea sering berkomunikasi dengan pelaksana arsitektur itu. Tentu saja mengenai pekerjaan.

Siang itu mereka kembali bertemu di depan keet yang mencapai bobot 25% untuk progress pekerjaan dan dibangun di area shelter.

“Pak Daril, tolong dilengkapi perabotannya, kursi masih kurang 4 unit, karena personil kami berjumlah 11 orang, oh ia stop kontaknya tolong segera diselesaikan ini pesan dari TL saya pak, terima kasih”

“siap mba !! nanti saya sampaikan ke menejemen dulu”

Sikap pria yang kira-kira berusia 30 an itu sopan, cerdas, dan jelas berpengalaman. Terkadang desakan dari atasan kami, membuat kami juga sangat cerewet kepada kontraktor. Yah imagenya kadang-kadang gak enak konsultan seolah-olah minta, padahal fasilitas tersebut jelas ada dalam kontrak termasuk asuransi kesehatan. Dan sayapun sadar kami memang bisa sangat menyebalkan, hingga pelaksana bagian arsitektur itu tidak membalas pesan dan tidak menjawab panggilan teleponku.

Entah mengapa alea menjadi penasaran dengan pria yang sering berpapasan dengannya di masjid terminal. Pria itu juga kerap menyendiri tidak seperti teman-teman pelaksana yang lain hobby memancing atau mencari tempat untuk me refresh otak. Dia berbeda.

Alea menyadari ada yang perlu diperbaiki dalam hubungan ini. Dia mulai lebih lembut dan mengalah demi kerjasama dan sikap professional. Perubahan sikap itu ternyata disambut baik oleh Pak Daril dan kini mereka sudah seperti teman akrab meskipun sebatas via wa. Mereka saling mengirim video lucu, kata-kata bijak dan tentu saja mereka mulai saling menelpon.

Meskipun realita Pak Daril adalah pria berkarisma, cerdas, dan manis ketika tersenyum. Entah mulai kapan Alea menyadarinya. Pria berhidung pesek itu tidak serta merta membuat Alea yang tertutup, cuek, dingin, cool, dan ceria bertekuk lutut padanya.
Mereka sangat professional dengan pekerjaan mereka.

Proyek ini akan berakhir dalam waktu yang tak lama lagi. Bukankah tidak apa-apa untuk mengikuti permainannya. Pikiran nakal itupun terbesit dalam benaknya. Hal ini terjadi karena kadang-kadang Pak Daril menggodanya dengan berkata, Mba Alea Cantik, Baik Hati lagi. Alea paham itu sudah biasa semua wanita ya cantik, kalau ganteng itu berarti pria.

Alea sadar Pak Daril menyembunyikan sesuatu, awalnya Pak Daril tidak pernah mengakui bahwa ia telah menikah. Kerap kali Alea menjuru kepertanyaan itu, dengan cerdas Pak Daril akan mengalihkan.

Hari ini Alea memposting foto pernikahannya di status wanya. Dan beberapa orang kaget mengetahui bahwa dia telah menikah, termasuk Dia si pria berhidung pesek itu. Ia tidak lagi memanggil Alea dengan kata mba. Pada akhirnya Pak Daril jujur mengenai dirinya yang telah menikah dan memiliki dua orang anak.

Alea merasa ia digunakan sebagai alat balas dendam Pak Daril, tapi Alea juga yakin bahwa pria itu menyimpan rasa padanya. Karena pria itu berterus terang mengenai perselingkuhan istrinya. Meskipun mereka tidak jadi bercerai karena mempertimbangkan kondisi anak-anak mereka. Setelah mengetahui status diri masing-masing ternyata itu tidak mengubah pertemanan Alea dan Pak Daril. Mereka masih sama nge chat tanpa beban, dan saling teleponan hingga berjam-jam.

“Kita tidak tau dengan masa depan, lagipula saya juga tidak tau apakah dia menghubungi pria itu ketika saya tidak bersamanya”

“Saya mengerti mas, mas Daril ingin balas dendam dengan istrinya makanya melakukan hal serupa seperti yang ia lakukan kepada pean, saya sudah lama tau itu, tapi bagi saya senang karena mas daril pendengar yang baik”

Alea tau kebenarannya bahwa itu hanya rasa cemburu seorang suami kepada istrinya. Toh hubungan Pak Daril dengan istrinya baik-baik saja. Ia mengagumi Pak Daril orang yang memiliki wawasan luas, tidak sombong dan mau mengajarinya terkait pelaksanaan pekerjaan dilapangan, dan dia menyukai kesederhanaan pria itu. Pria berhidung pesek itu tidak malu mengakui jika dia mengucapkan kata-kata yang salah, dia akan bertanya dengan lembut, mencoba belajar sesuatu dari wanita yang berusia 8 tahun lebih muda dari usianya. Pria itu suka membicarakan mengenai politik meskipun dia sadar bahwa Alea sangat malas membahas hal itu, mau dipengaruhi seperti apapun wanita yang selalu bicara blak-blakan itu tidak bergeming tetap bersikukuh dengan pilihannya.

Proyek telah memasuki masa pemeliharaan, dan tim yang stanby di lapangan tidak sebanyak seperti biasanya baik dari kontraktor maupun konsultan.

Siang itu mereka berdua menikmati semangkuk mie ayam dan segelas jus jeruk di sebuah rumah makan kecil. Mereka bercerita banyak hal. Ini pertama kalinya Alea mau makan bersama dengan Pak Daril, meskipun sudah sering menolak ajakan pria bertubuh bidang itu. Esok Pak Daril akan pulang untuk cuti dan tidak lagi ke proyek terminal, dia dimutasi ke pekerjaan baru. Alea sadar hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu, makanya pada hari itu dia memberanikan diri untuk membayar janjinya untuk makan bersama.


Sejak hari itu dan hingga saat ini mereka tidak lagi saling menghubungi. Bukannya tidak memikirkan pria berhidung pesek itu, saking ia memikirkan dan menjaga perasaan istri dari Pak Daril, dan seharusnya sudah sejak lama dia menarik diri dari masalah rumah tangga oranglain.

Tentu saja kadang-kadang Alea masih ingat ketika mereka saling menyanyi ditelepon hingga mulai menguap. 

Dan daril berkata senang mendengar wanita itu bernyanyi, ia menganggap itu kenangan indah. Namun dengan cueknya Alea membalas. Ia kenangan indah bagi pean. Sebenarnya ia bercanda. Dia selalu menggunakan kata-kata yang menyakiti walau maksud hatinya tidak seperti itu. Dan mungkin juga akibat ia berkata,

“Bapak pulang aja saya biasa aja, hubungan ini sampai proyek berakhir’’ walaupun dia tidak mengatakan itu dengan sungguh-sungguh.

Sepertinya Pak Daril menganggap itu serius. Tapi bersikap seolah biasa-biasa saja. Dan kedua orang itu memiliki karakter yang sama, keras kepala, cuek, dingin, jaim dan tetap mempesona.

Alea masih berpikir biarkan mengalir seperti air, ia belajar dari Pak Daril bagaimana cara bermain aman, jangan pernah baper, jangan sampai sakit hati. Karena manusia akan selalu datang dan pergi. Meski kenangan tidak akan dilupakan.

Dan alea percaya bahwa KITA TIDAK TAU DENGAN MASA DEPAN